Pengukuhan Prof. Dr. Rika Ampuh Hadiguna, IPM (Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu System Logistic)

25 Jun 2019

Padang (Unand) - Universitas Andalas mengukuhkan Guru Besar Tetap dari Fakultas Teknik.

Kedua guru besar tetap dari Fakultas Teknik tersebut yakni Prof. Dr. Eng. Ariadi Hazmi, ST, MT (Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu teknik tegangan tinggi) dan Prof. Dr. Rika Ampuh Hadiguna, IPM (Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu system logistic).

Pengukuhan ini berlangsung di Gedung Convention Hall Kampus Unand Limau Manis Padang pada Selasa (25/6) yang juga dihadiri oleh Guru Besar Tamu dari Institut Teknologi Bandung Prof. Dr. Reynaldo Zoro.

Pemasangan kalung tanda kehormatan Profesor di pasangkan langsung oleh Ketua Majelis Guru Besar (Prof. Dr. Ir. Fauzan Azima, MS) didampingi Wakil Rektor I Universitas Andalas (Prof. Dr. Dachriyanus, Apt), Sekretaris MGB (Prof. Dr. Erizal Mukhtar, MS) dan Dekan Fakultas Teknik (Ir. Insannul Kamil, Ph. D).

Dalam pengukuhan ini Prof. Dr. Eng. Ariadi Hazmi, ST, MT menyampaikan Orasi Ilmiah mengenai Petir: Fenomena Alam, Bahaya dan Manfaatnya.

Disampaikannya petir merupakan fenomena alam yang biasanya terjadi pada saat turun hujan dilangit yang memunculkan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan, beberapa saat kemudian disertai dengan suara keras yang menggelegaryang disebut guruh.

“Petir terjadi karena adanya perbedaan potensial antara awan dan bumi atau antar awan, saat petir terjadi ada pelepasan muatan listrik statis yang menetralisasi muatan pada dua daerah yang bermuatan listrik berbeda selama badai,” jelasnya.

Ditambahkannya selain menimbulkan bahaya dan bencana bagi kehidupan manusia dan fasilitas umum juga memberikan manfaat bagi kehidupan manusia yakni saat terjadi petir akan terbentuk ozon yang berguna untuk melindungi bumi dari sinar ultraviolet matahari dan nitrogen oksida yang berguna untuk kesuburan tanah melalui hujan.

Sementara itu, Prof. Dr. Rika Ampuh Hadiguna, IPM menyampaikan orasi ilmiah tentang Teknologi Blockchain dan Bigdata pada system logistic modern menuju era industri 5.0.

Disampaikannya Industri 5.0 merupakan tantangan yang harus dihadapi meskipun indonesia baru memulai era making indonesia 4.0 sebagai sebuah peta jalan yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi era industri 4.0 yang diprakarsa kementerian perindustrian.

“Making Industri 4.0 menetapkan lima teknologi utama penopang yaitu internet of things, artificial intelegance, human-machine interface, robotika dan sensor serta 3 D printing,” ujarnya yang juga Wakil Dekan I Fakultas Teknologi Informasi Universitas Andalas.

Dikatakannya sektor-sektor yang diprioritaskan adalah otomotif, elektronik, makanan dan minuman, kimia, tekstil, clothing dan alas kaki.

“Kementerian perindustrian meluncurkan model pengukuran indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) untuk mengetahui tingkat kesiapan perusahaan-perusahaan manufaktur indonesia,” ungkapnya.

Ditambahkannya system logistic 5.0 akan ditandai dengan pengoperasian system super cerdas dari storage, autonomous vehicle dan pesawat nirawak (drone).

Tantangan bagi dunia logistic indonesia menuju era industri 5.0 dikatakannya adalah pembangunan dan pengembagan teknologi blockchain terintegrasi cloud computing berbasis bigdata yang terfokus pada logistik lask mile, logistik pedesaan, logistik antar pulau terpencil, logistik klaster IKM, logistik kemanusiaan dan logistik Halal.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Andalas Prof. Dr. Dachriyanus, Apt mengucapkan selamat kepada Prof. Dr. Eng. Ariadi Hazmi, ST, MT dan Prof. Dr. Rika Ampuh Hadiguna, IPM sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Teknik. 

Dikatakannya saat ini Universitas Andalas memiliki 156 Guru Besar. “Kalau dari segi jumlah mungkin sudah banyak tetapi dari standar Dikti masih belum,” ungkapnya.

Dikatakannya untuk mendapatkan komposisi yang bagus seharusnya 30% dari jumlah dosen bergelar Guru Besar dimana saat ini jumlah total dosen Universitas Andalas berjumlah 1.356.

Sedangkan sekarang persentase Guru Besar Universitas Andalas baru mencapai 11%. “Diperlukan usaha yang kuat untuk meningkatkan komposisi dosen yang bergelar Guru Besar,” ungkapnya.

Ia mengharapkan para sejawat yang belum mencapai Guru Besar agar bersegera untuk mengusulkannya. “Selagi DIKTI memberikan kemudahan-kemudahan karena sekarang masih berdasarkan Number of Publication,” ujarnya.

Ditambahkannya cepat atau lambat Dikti akan menerapkan bukan berdasarkan Number of Publication tetapi berdasarkan H Indeks, kalau H indeks sudah diterapkan tentu akan menjadi lebih sulit.

Maka dari itu, ia meminta kepada Lector Kepala untuk secepatnya mengusulkan menjadi Guru Besar karena jabatan tertinggi dosen pada hakikatnya adalah Guru Besar.(*)

Humas dan Protokol Unand

Read 756 times
 
 

Prodi Teknik Industri Universitas Adzkia - Website: https://ti.adzkia.ac.id/