Padang (DTI, Unand) - Sifitas akademika dari Teknik Industri Universitas Andalas, yang terdiri dari Henmaidi, Alexie Heryandi Bronto Adi, Ikhwan Arief, dan Ghina Metavia, bekerja sama dengan Nurike Oktavia dari Politeknik ATI Padang, menyelesaikan penelitian penting mengenai analisis rantai nilai industri ayam petelur di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal internasional IJASEIT dengan DOI: 10.1088/1755-1315/492/1/012156.

Henmaidi, ST, M.Eng.Sc, Ph.D

Permintaan akan produk unggas, terutama telur dan daging ayam, mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Kabupaten Limapuluh Kota menjadi salah satu daerah dengan populasi ayam petelur terbesar di Sumatera Barat, mencapai angka 10 juta. Meskipun demikian, industri ini menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah penurunan jumlah peternak akibat margin keuntungan yang rendah.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana nilai tambah didistribusikan di antara pelaku rantai pasok industri ayam petelur. Penelitian ini juga menganalisis saluran distribusi serta penciptaan nilai di sepanjang rantai pasok. Penelitian ini menggunakan metode Hayami untuk menganalisis nilai tambah, dengan mendefinisikan nilai tambah sebagai selisih antara nilai output dan input.
Penelitian ini menemukan bahwa rantai nilai industri ayam petelur di Kabupaten Limapuluh Kota melibatkan beberapa pelaku utama, yakni toko unggas, peternak, pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang kecil. Toko unggas menyediakan kebutuhan produksi seperti DOC (Day Old Chick), pakan, obat-obatan, dan peralatan kandang. Peternak membesarkan ayam petelur untuk menghasilkan telur, yang kemudian dikumpulkan oleh pedagang pengumpul dan didistribusikan ke pedagang besar atau langsung ke konsumen.
Distribusi nilai tambah menunjukkan ketidakseimbangan yang signifikan. Pedagang besar memperoleh nilai tambah terbesar sebesar 29,11%, diikuti oleh peternak dengan 29,05%. Pedagang kecil mendapatkan 20,07%, toko unggas 14,17%, dan pedagang pengumpul memperoleh nilai tambah terkecil sebesar 7,60%. Ketidakseimbangan ini terutama disebabkan oleh rendahnya posisi tawar peternak dalam rantai pasok.
Untuk mengatasi ketidakseimbangan dalam distribusi nilai tambah, tim peneliti merekomendasikan adanya dukungan dari pemerintah untuk meningkatkan akses informasi pasar bagi peternak dan memperbaiki rantai distribusi. Selain itu, kolaborasi yang erat antara semua pelaku industri, termasuk peternak besar dan kecil, sangat diperlukan untuk menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan adil.
Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang distribusi nilai tambah dalam industri ayam petelur di Kabupaten Limapuluh Kota. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang struktur rantai nilai, diharapkan langkah-langkah strategis dapat diambil untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dan efisiensi industri secara keseluruhan. Dukungan dan intervensi dari pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan sistem agribisnis yang lebih berkelanjutan dan adil.
Penelitian ini merupakan contoh nyata dari dedikasi dan kinerja sifitas akademika Teknik Industri Universitas Andalas dalam kontribusinya terhadap pengembangan sektor pertanian dan peternakan di Indonesia. Prestasi ini tidak hanya memperkuat posisi Universitas Andalas sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai penelitian ini, dapat mengunjungi jurnal IJASEIT atau menghubungi Fakultas Teknik Industri, Universitas Andalas.
Admin Web JTI









